Baiklah, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta, dengan penekanan pada suasana, deskripsi puitis, dan plot yang menggantung: **Pelukan yang Mengantar Kepergian** Malam itu kelabu, selabu kain sutra usang yang menutupi masa lalu. Salju turun dengan *ganas*, menutupi halaman kediaman keluarga Li dengan lapisan putih yang menipu. Di tengah halaman, di bawah cahaya rembulan yang enggan menampakkan diri, berdiri dua sosok. Li Wei, dengan jubah brokat hitam yang ternoda darah, menatap Ye Mei. Matanya, yang dulu dipenuhi cinta untuk wanita itu, kini hanya memancarkan bara kebencian yang membara. Ye Mei, dengan gaun putih yang kontras dengan malam yang gelap, membalas tatapan Li Wei. Air mata membeku di pipinya, kilauannya menyerupai pecahan kaca yang tajam. "Kau…" suara Li Wei serak, nyaris tak terdengar di tengah deru angin. "Selama ini… *kau* yang bertanggung jawab?" Ye Mei tak menjawab. Angin dingin menari di antara mereka, membawa serta aroma dupa yang membumbui udara. Dupa yang dulu dinyalakan sebagai lambang cinta, kini hanya menjadi saksi bisu pengkhianatan. Kilatan pedang di tangan Li Wei membuat Ye Mei tersentak. "Ayahku… saudaraku… semua karena kau?" "Aku…" bisik Ye Mei, suaranya bergetar. "Aku melakukannya untuk melindungi… kita." Li Wei tertawa getir. Tawa yang lebih terdengar seperti raungan hewan terluka. "Melindungi? Dengan darah? Dengan kebohongan? *Kebohongan* yang menjadi fondasi cinta kita?" Malam itu, rahasia lama terkuak. Ye Mei, ternyata, adalah putri dari keluarga yang telah menghancurkan keluarga Li puluhan tahun lalu. Dendam keluarga, yang dipendam selama bertahun-tahun, akhirnya menemukan jalannya. Cinta mereka, yang dibangun di atas pasir, runtuh diterjang badai kebenaran. Di tengah salju yang semakin menebal, Li Wei mendekat. Pedangnya terangkat, siap menebas. Namun, sebelum pedang itu menyentuh Ye Mei, Li Wei menjatuhkannya. Ia meraih Ye Mei, menariknya ke dalam pelukan yang erat. *Pelukan yang mematikan*. "Aku membencimu…" bisik Li Wei, suaranya tercekat. "Tapi aku mencintaimu… lebih dari yang kubenci." Pelukan itu semakin erat, meremukkan tulang. Ye Mei tak melawan. Ia membalas pelukan Li Wei, air matanya menetes di atas jubah brokat yang ternoda darah. Di antara aroma dupa dan salju, terucap janji terakhir di atas abu cinta yang telah terbakar. "Aku… akan menemuimu… di kehidupan selanjutnya…" bisik Ye Mei, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya. Li Wei melepaskan pelukannya. Ye Mei tergeletak di atas salju, gaun putihnya kini merah padam. Li Wei berlutut di sampingnya, menyentuh wajahnya yang dingin. Balas dendam. Bukan dengan pedang, bukan dengan teriakan. Melainkan dengan *keheningan yang mematikan*. Li Wei tahu, dengan membunuh Ye Mei dengan tangannya sendiri, ia juga telah membunuh dirinya sendiri. Ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai. Di saat fajar menyingsing, Li Wei berdiri di depan makam keluarga Li. Matanya kosong. Ia tahu, *hukuman yang sebenarnya baru saja dimulai*. Dendam keluarga Ye Mei, yang dipendam selama bertahun-tahun, akan segera menimpa mereka yang masih hidup. *** Beberapa bulan kemudian, keluarga Li jatuh satu per satu. Bukan karena perang, bukan karena pengkhianatan. Melainkan karena penyakit misterius yang merenggut nyawa mereka secara perlahan dan menyakitkan. Tak ada yang tahu penyebabnya. Tak ada yang bisa menghentikannya. Hanya ada satu petunjuk yang ditinggalkan. Sebuah kalung giok berbentuk kupu-kupu, lambang keluarga Ye Mei, yang ditemukan di dekat setiap jasad. Kalung yang *berbisik* tentang dendam yang tak terpadamkan. Di tengah malam yang sunyi, seorang wanita berjubah hitam berdiri di puncak gunung, memandang ke arah kediaman keluarga Li yang kini terbengkalai. Di tangannya tergenggam sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau zamrud. Cairan yang *terlalu lama menunggu*. ... Dan desiran angin membawa bisikan: *Mereka akan membayar setiap tetes darah… dengan air mata yang lebih pahit.*
You Might Also Like: Soothe Mouth Ulcers Instantly With Our

Share on Facebook