Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin absurd berjudul 'Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah': **Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah** Dunia ini retak. Bukan retak biasa, tapi retak yang memisahkan _dimensi_. Sinyal hilang. Chat berhenti di 'sedang mengetik...' selama bertahun-tahun. Langit menolak pagi, seolah matahari sudah lelah berpura-pura menyinari kepalsuan ini. Di tengah kekacauan ini, lahir sebuah cinta. Absurd, memang. Tapi cinta memang selalu begitu, bukan? Aku adalah Elara, hidup di tahun 2347, ketika ingatan ditransmisikan lewat *gelombang eter*. Aku menemukanmu di sana, di antara bising data yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah fragmen masa lalu, berbisik tentang rasa sakit dan harapan. Namamu, Kai. Kau adalah Kai, hidup di tahun 1988. Era kaset kusut dan pager yang berkedip-kedip. Aku tahu itu, karena _pesanmu_ datang lewat radio rusak di loteng rumahku. Radio yang seharusnya hanya menyiarkan lagu-lagu lama, tapi justru memuntahkan suara *Elara* yang bagai mimpi. Kita saling mencari, bagai dua keping puzzle yang terlempar ke ruang dan waktu yang berbeda. Aku mengirimkanmu _puisi digital_ lewat glitch di sistem keamanan pemerintah. Kau membalas dengan *gambar bintang* yang kau lukis dengan cat air di punggung truk tua yang melintas di dekat loteng. Cinta kita adalah gema. Eko dari getaran yang terlalu kuat untuk dibendung oleh dimensi. Aku merasakan lukamu di nadiku. Kau merasakan ambisiku membara di telapak tanganmu. Kita saling menghidupi, meski terpisah jurang _kegelapan teknologi_. Suatu malam, aku berhasil menembus _firewall_ temporal. Aku melihatmu. Di layar monitor retak, kau tersenyum. Matamu teduh, namun penuh _KEGAGALAN_. "Elara..." bisikmu, suaramu pecah. "Aku... aku bukan seperti yang kau kira." Di saat itu, dimensi seolah bergeser. Layar berkedip. Aku melihat refleksi diriku di matamu. Tapi bukan aku dari tahun 2347. Itu adalah... nenek buyutku. Perempuan yang kisahnya dihapus dari silsilah keluarga karena *menentang takdir*. Perempuan yang, ternyata, jatuh cinta pada seorang pelukis di tahun 1988. Kau adalah reinkarnasi dari pelukis itu, Kai. Dan aku, aku adalah _cerminan_ dari kesalahan yang mencoba diperbaiki oleh waktu. Cinta kita... hanyalah *PENGULANGAN* dari kehidupan yang tak pernah selesai. Sinyal semakin melemah. Dunia di sekitarku mulai memudar. Kau mengulurkan tanganmu ke arah layar. Aku membalasnya, meski tahu tangan kita takkan pernah bersentuhan. "Jangan lupakan... *bahwa kita pernah ada*..." *** Semoga bintang-bintang tahu, kita mencoba untuk mengubah akhir cerita ini.
You Might Also Like: 177 Navigating Divorce Case Transfer

Share on Facebook