**Kau Mengkhianati Aku dengan Tenang, Seolah Cinta Tak Pernah Berarti** Hujan menyelimuti Taman Pemakaman Ba Hua Shan. Butirannya jatuh tanpa ampun, menimpa nisan abu-abu yang berjejer bagai tentara yang kalah perang. Di tengah gemericik sunyi itu, berdiri seorang arwah bernama Lian, tatapannya menerawang pada satu nisan yang jauh lebih baru dari lainnya. Nisan itu bertuliskan nama *Lin Wei*. Lima tahun sudah berlalu sejak Lian meregang nyawa. Kecelakaan tragis di jembatan yang selalu mereka lewati bersama. Lin Wei selamat. Lian...tidak. Dulu, ia mengira ini adalah takdir. Sekarang, hatinya terasa seperti kaca yang retak seribu. Retakan yang disebabkan oleh ketenangan Lin Wei. Ketenangan yang aneh, seolah ia tak pernah kehilangan apa pun. Sebagai arwah, Lian terikat. Terikat pada tempat kematiannya, terikat pada orang yang masih hidup dan menyimpan rahasia. Lin Wei. Bayangan Lian memanjang di antara nisan, menolak untuk pergi meski matahari telah lama terbenam. Ia menyaksikan Lin Wei mengunjungi makamnya setiap hari Minggu, meletakkan bunga lili putih – bunga kesukaan Lian. Lin Wei akan duduk di sana, membacakan puisi, lalu pulang dengan wajah yang sama, **TENANG**. Namun, di balik ketenangan itu, Lian mencium bau pengkhianatan. Bukan pengkhianatan fisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Pengkhianatan janji. Lian ingat janji itu. Di bawah pohon sakura yang bermekaran, Lin Wei bersumpah akan selalu menjaga rahasia besar mereka. Rahasia tentang uang warisan keluarga Lian yang disembunyikan, rahasia yang bisa menghancurkan keluarga Lin Wei sendiri. Sebagai arwah, Lian bisa melihat masa lalu. Ia melihat Lin Wei membocorkan rahasia itu kepada pamannya, orang yang paling serakah di dunia ini. Lian melihat senyum licik pamannya saat menerima informasi itu. Ia melihat uang warisan itu lenyap, dibawa pergi oleh tangan-tangan kotor. Lian ingin berteriak. Ia ingin Lin Wei merasakan sakit yang ia rasakan. Ia ingin balas dendam. Namun, setiap kali ia mencoba menyentuh Lin Wei, ia hanya merasakan udara kosong. Kekuatannya terbatas. Ia hanyalah bayangan, hantu masa lalu. Malam demi malam, Lian mengikuti Lin Wei. Ia melihatnya hidup dengan nyaman, seolah tidak ada yang salah. Ia melihatnya tertawa, bekerja, bahkan berkencan dengan wanita lain. Hatinya semakin hancur. Suatu malam, Lian mengikuti Lin Wei ke sebuah rumah sakit tua. Di sana, ia melihat Lin Wei mengunjungi seorang wanita tua yang terbaring lemah di ranjang. Wanita itu adalah ibu Lin Wei. Lian mendekat. Ia mendengar percakapan mereka. "Ibu, aku minta maaf," kata Lin Wei, suaranya bergetar. "Aku...aku melakukannya demi Ibu. Uang warisan itu...aku berikan pada Paman untuk biaya pengobatan Ibu." Dada Lian terasa sesak. Semua amarahnya tiba-tiba menguap. Ia mengerti. Lin Wei mengkhianatinya bukan karena keserakahan, melainkan karena cinta. Cinta kepada ibunya. Lian melihat ibunya Lin Wei tersenyum lemah. "Nak, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan sejati adalah kedamaian hati." Kata-kata itu menghantam Lian. Ia menyadari, selama ini yang ia cari bukanlah balas dendam, melainkan kedamaian. Kedamaian untuk dirinya sendiri, kedamaian untuk Lin Wei. Dengan sisa kekuatannya, Lian mendekat ke Lin Wei. Ia mencoba menyentuhnya, kali ini bukan dengan amarah, melainkan dengan maaf. Ia membisikkan sesuatu, *"...Maafkan aku..."* Perlahan, Lian merasakan ikatannya mulai terlepas. Ia melihat cahaya terang di kejauhan. Ia tahu, inilah saatnya ia pergi. Ia memandang Lin Wei sekali lagi. Lin Wei menoleh, seolah merasakan kehadiran Lian. Ada air mata di matanya. Lian tersenyum. Bukan senyum sinis, bukan senyum pahit, melainkan senyum tulus, senyum kedamaian. Dan arwah itu, akhirnya, ***PERGI***, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya, menyisakan hanya satu kalimat menggantung di udara: "Semoga kau bahagia…"
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Dengan

Share on Facebook