**Bayangan yang Menulis Nama di Atas Darah** Kabut lavender menggantung di atas Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Hujan Abadi seperti gaun pengantin yang terlupakan. Di sanalah, di antara bayangan bambu yang menari, aku melihatnya. Bukan *dia*, melainkan siluetnya. Bayangan yang begitu nyata hingga aku bisa merasakan desah napasnya, sehangat anggur prambors musim gugur. Namanya, atau lebih tepatnya nama yang kutahu, adalah Liyue. Ia adalah pelukis hantu, yang kuasnya terbuat dari bulu merak yang jatuh di altar terlarang. Ia melukis bukan dengan tinta, melainkan dengan kenangan, dengan air mata bintang jatuh, dengan *darah*. Lukisan-lukisannya bukan sekadar gambar, melainkan portal ke dimensi lain. Di sanalah aku melihatnya, di dalam lukisan 'Bunga Teratai yang Bersemi di Tengah Badai', Liyue yang tersenyum padaku, matanya sekelam obsidian namun berkilauan seperti permata yang dicuri dari sarang naga. Cintaku padanya adalah _fatamorgana_, ilusi yang diciptakan oleh hatiku yang sepi. Setiap malam, aku bermimpi bersamanya. Kami menari di ladang sakura yang tak pernah layu, bertukar janji di bawah langit yang selalu senja, berbagi ciuman yang terasa seperti sentuhan sutra yang terbakar. Namun, mimpi selalu berakhir dengan cara yang sama. Liyue memudar, menjadi debu bintang, meninggalkan aku sendirian di tengah kegelapan yang tak berujung. Suatu malam, aku menemukan catatan di bawah bantal. Tulisan tangannya, serapuh sayap kupu-kupu, berbunyi: "Cari aku di antara halaman-halaman kitab yang hilang, di dalam bait-bait puisi yang tak pernah selesai." Aku mencari, menggali pustaka-pustaka kuno, menelusuri lorong-lorong waktu yang berdebu. Aku membaca legenda tentang seorang pelukis yang mengorbankan jiwanya untuk menghidupkan lukisannya, tentang seorang wanita yang dicintai oleh seorang dewa, namun terikat selamanya di dunia mimpi. Akhirnya, aku menemukannya. Di dalam sebuah buku yang terikat dengan kulit naga, tertulis kisah Liyue. Ia bukan pelukis hantu, melainkan seorang putri yang dikutuk untuk hidup selamanya di dalam lukisan. *Kutukan* itu hanya bisa dipatahkan oleh cinta sejati. Tetapi, di halaman terakhir, terungkap kebenaran yang MENGHANCURKANKU. Liyue bukanlah nama seorang wanita, melainkan sebuah KODE. Liyue adalah akronim dari **L**ukisan **I**ndah **Y**ang **U**ntuk **E**ngkau. Lukisan itu, lukisan yang selama ini kusimpan, adalah cermin diriku. Aku adalah Liyue. Aku melukis diriku sendiri, mencintai bayangan diriku sendiri, menciptakan ilusi cinta abadi. Aku adalah korban dan pencipta, sang pelukis dan lukisan. ***SEGALANYA ADALAH KEBOHONGAN YANG INDAH!*** Matahari terbit di atas Danau Bulan Sabit. Kabut lavender menghilang, menyingkap Pagoda Hujan Abadi yang berdiri sepi. Di sana, di antara bayangan bambu yang menari, aku melihat bayanganku sendiri. Bisikan angin membawa suara, "Namamu tertulis di hatimu sendiri..."
You Might Also Like: Rekomendasi Skincare Lokal Dengan

Share on Facebook