Baiklah, ini dia kisah Dracin fantasi yang kau inginkan: **Kau Menatapku dari Masa Lalu, dan Aku Menangis di Masa Depan** Di sebuah desa yang terhimpit antara tebing curam dan sungai yang berkelok, berdirilah Paviliun Bulan Purnama. Di sana, *lenter-lenter* bergelantungan di atas air, cahayanya menari-nari seperti kunang-kunang yang tersesat. Setiap malam, bisikan **BAYANGAN** bergema dari balik dinding batu, menceritakan kisah-kisah purba yang terlupakan. Di langit, *Bulan* yang *MENGINGAT NAMA*, menyaksikan segalanya. Aku, Lian, hidup dalam dunia yang terbagi. Di dunia manusia, aku seorang peramal bisu, hanya mampu berkomunikasi lewat lukisan mimpi. Di dunia roh, aku adalah *Penjaga Gerbang*, sosok yang memegang kunci keseimbangan antara kehidupan dan kematian. Suatu malam, sebuah penglihatan menghantamku bagai gelombang pasang. Aku melihat diriku sendiri, **MATI** di dunia lama, dikhianati oleh cinta yang kucari. Sakitnya begitu nyata hingga aku terisak, air mata membasahi kanvas di depanku. "Kematianmu bukanlah akhir, Lian," bisik sebuah suara dari balik lukisan. "Itu adalah AWAL." Dan begitulah, aku terseret ke dalam pusaran takdir yang lebih besar dari yang kubayangkan. Di dunia roh, aku bertemu dengan Bai Yu, *Penguasa Angin*, seorang pria dengan tatapan sedalam jurang dan senyum semanis madu. Dia bilang, dia menungguku selama ribuan tahun, sejak aku pertama kali menapakkan kaki di dunia ini. Dia bersumpah untuk melindungiku, membantuku mengungkap rahasia kematianku di masa lalu. "Kau aman bersamaku, Lian. Aku akan membantumu mengingat semuanya," ujarnya, menggenggam tanganku erat. Tapi ada yang terasa aneh. Mengapa dia begitu yakin dengan takdirku? Mengapa *Bulan* seolah-olah mengawasinya dengan curiga? Dan mengapa setiap kali aku mencoba mengingat detail kematianku, kepalaku terasa seperti mau pecah? Di dunia manusia, aku bertemu dengan Lin Wei, seorang *tabib* muda dengan hati sehangat matahari. Dia tidak tahu tentang dunia roh, tidak tahu tentang takdirku, tapi dia mencintaiku dengan sederhana dan tulus. Cintanya bagai oase di tengah gurun keputusasaan. Namun, semakin aku dekat dengan Lin Wei, semakin jauh Bai Yu berusaha menjauhkannya. Dia menanamkan keraguan di benakku, membisikkan bahwa Lin Wei hanyalah bidak dalam permainan besar yang tidak kumengerti. "Dia bukan untukmu, Lian. Takdirmu ada di sini, bersamaku," desisnya, matanya berkilat penuh ambisi. Aku bimbang. Siapa yang bisa kupercaya? Siapa yang **MENCINTAIKU** apa adanya, dan siapa yang **MEMANIPULASI** takdirku demi tujuan yang lebih gelap? Akhirnya, kebenaran terungkap dalam kilatan petir. Kematianku di masa lalu bukanlah kecelakaan. Itu adalah pengorbanan yang direncanakan dengan matang, orchestrated by… BAI YU! Dia membutuhkan kekuatanku untuk membuka gerbang ke dimensi yang lebih tinggi, untuk menjadi *penguasa* atas segalanya. Cintanya padaku hanyalah **KEBOHONGAN**, sebuah alat untuk memanipulasiku. Dengan segenap kekuatan yang kumiliki, aku berbalik melawannya. Aku menggabungkan kekuatan dunia manusia dan dunia roh, memanggil arwah para leluhur, dan menghancurkan rencananya. Bai Yu tumbang, *kekuatan* yang diidamkannya hilang. Dia menatapku dengan *kebencian* di matanya, sebelum akhirnya lenyap menjadi debu. Lin Wei, yang ternyata adalah reinkarnasi dari kekasihku di masa lalu, memelukku erat. Air mataku mengalir deras, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena kelegaan. Aku telah menemukan kebenaran. Aku telah memilih takdirku sendiri. Tapi di balik kebahagiaan itu, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal. Mengapa aku bisa mengingat kematianku, tapi tidak bisa mengingat kehidupan sebelum kematian itu? Dan mengapa setiap kali aku menatap *Bulan*, aku merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang belum selesai? Di tengah keheningan malam, sebuah suara bergema di benakku, sebuah mantra yang membekukan darah: *Darahlah takdir, kematianlah kelahiran, cinta yang hilang akan kembali mencari.*
You Might Also Like: Mastering Communication Essential

Share on Facebook