**Bayangan yang Mengintai di Balik Cermin** Langit Jing'an memerah senja, serupa darah yang menetes perlahan. Di ruangan berhias kaligrafi kuno, berdiri Mei Lan, siluetnya rapuh diterpa cahaya lilin. Di depannya, Ren Jie, sosok yang dulu memenuhi mimpinya dengan janji bintang dan rembulan. Dulu, bibir Ren Jie melukis janji *abadi* di bawah pohon sakura yang mekar. Dulu, matanya memancarkan cinta yang Mei Lan yakini takkan pernah pudar. Dulu, dunianya berputar hanya di sekitar senyum Ren Jie. Namun, waktu adalah sungai yang menghanyutkan segala. Arus kekuasaan dan ambisi menyeret Ren Jie menjauh, ke pelukan wanita lain, ke singgasana yang dilapisi emas, namun *hampa* di dalam. "Mei Lan," bisik Ren Jie, suaranya serak dan berat. "Aku… aku menyesal." Penyesalan? Kata itu bagai pisau es yang menikam jantung Mei Lan. Penyesalan itu terlambat. Terlalu terlambat untuk semua air mata yang tumpah, semua malam tanpa tidur, semua mimpi yang hancur berkeping-keping. "Penyesalanmu tak bisa mengembalikan apa yang hilang," jawab Mei Lan, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya, dulu selembut danau, kini membara dengan *dingin* yang membekukan jiwa. Dia mengangkat cermin kuno, permukaannya memantulkan wajah Ren Jie yang terpancar penyesalan, dan wajahnya sendiri, kini dipenuhi bayangan dendam. Cermin itu adalah pusaka keluarga, konon menyimpan kekuatan gaib. "Kau tahu, Ren Jie," lanjut Mei Lan, senyum pahit tersungging di bibirnya. "Cermin ini konon bisa menunjukkan takdir seseorang. Mari kita lihat takdirmu." Saat Mei Lan membaca mantra kuno, ruangan itu bergetar. Bayangan-bayangan mulai menari di sekitar cermin. Wajah Ren Jie memucat, matanya membulat ketakutan. Di dalam cermin, ia melihat dirinya sendiri, bukan sebagai kaisar perkasa, melainkan sebagai *mayat* yang tergeletak di bawah pohon sakura. Pohon yang sama tempat ia mengucapkan janji palsunya. Ren Jie jatuh berlutut, mencoba meraih Mei Lan, namun terlambat. Kekuatan cermin menggerogoti jiwanya, menariknya ke dalam dimensi yang gelap dan abadi. Mei Lan menyaksikan semua itu dengan tenang. Tak ada senyum kemenangan, tak ada teriakan kepuasan. Hanya kehampaan yang lebih dalam dari jurang. Keesokan harinya, Ren Jie ditemukan tewas di taman istana, di bawah pohon sakura yang tengah gugur bunganya. Penyebab kematiannya tidak jelas. Orang-orang berbisik tentang kutukan, tentang dewi malam yang murka. Mei Lan menghilang tanpa jejak. Tak seorang pun tahu kemana ia pergi, atau apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Hanya cermin kuno yang tersisa di ruangannya, permukaannya kini berkabut dan dingin, menyimpan rahasia kematian seorang kaisar dan *api dendam* seorang wanita yang patah hati. Cinta telah mati, tetapi dendamkah yang kini bersemi di antara debu dan kenangan?
You Might Also Like: Mahkota Yang Jatuh Bersama Nama

Share on Facebook