Baiklah, ini dia kisah pendek yang saya buat: **Di Bawah Langit Kota Tua** Hujan menggigil menyentuh atap genting, seperti bisikan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Mei duduk di depan cermin usang, bayangannya remuk seperti hatinya bertahun-tahun lalu. "Ia Melihatku Lewat Cermin, Tapi Bukan Aku Lagi Di Sana". Judul itu bagai mantra yang menggaung di benaknya. Dulu, di cermin ini, ia melihat mata yang penuh cinta, mata Han. Sekarang, hanya ada guratan luka yang dalam. Han datang kembali. Lima tahun berlalu sejak ia menghilang, meninggalkan Mei dengan janji yang tak ditepati dan surat pengakuan yang menghancurkan. Sekarang, ia berdiri di ambang pintu, cahaya lentera jalanan yang nyaris padam memantulkan kilau penyesalan di matanya. "Mei..." Suaranya serak, seperti dedaunan kering yang diterpa angin musim gugur. Mei tidak menjawab. Ia membiarkan Han masuk, membiarkannya duduk di kursi kayu tua yang dulu menjadi saksi bisu janji-janji mereka. Aroma teh chamomile memenuhi ruangan, aroma yang dulu selalu menenangkan, kini terasa pahit di lidah. "Aku tahu, aku melakukan kesalahan besar," Han melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku menyesal." Mei menoleh. **"MENYESAL?"** katanya, suaranya dingin seperti es. "Apakah penyesalanmu bisa mengembalikan waktu? Bisakah penyesalanmu menghapus rasa sakit yang kualami?" Han terdiam. Ia tahu, tidak ada kata yang bisa menebus kesalahannya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, mencoba mencari jejak Mei yang dulu. Namun, yang ia temukan hanyalah ruangan yang suram, dipenuhi bayangan masa lalu yang menakutkan. Hari-hari berlalu dalam suasana yang tegang. Han mencoba memperbaiki hubungan mereka, membawakan bunga lili kesukaan Mei, memasak makanan yang dulu mereka nikmati bersama. Namun, Mei tetap dingin, menjaga jarak, seolah Han adalah hantu dari masa lalu. Suatu malam, saat hujan kembali mengguyur kota, Mei mengajak Han ke sebuah gudang tua di tepi sungai. Cahaya bulan yang redup menyinari debu yang beterbangan di udara. "Dulu, kita sering bermain di sini," kata Mei, suaranya datar. "Kau ingat?" Han mengangguk. Ia ingat, gudang ini adalah tempat rahasia mereka, tempat mereka berjanji untuk saling mencintai selamanya. Mei berbalik, menghadap Han. "Kau tahu, Han," katanya, "Aku tidak pernah benar-benar memaafkanmu." Han menatap Mei dengan tatapan memohon. "Aku tahu, Mei. Aku tahu." Mei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau salah, Han. Aku tidak hanya tidak memaafkanmu... aku sudah merencanakan ini selama bertahun-tahun." Han terkejut. Ia tidak mengerti apa yang Mei katakan. Mei mendekat, semakin mendekat. "Kau pikir aku hanya diam dan menderita? Kau salah. Aku menggunakan setiap tetes air mata, setiap malam tanpa tidur, untuk merencanakan kejatuhanmu." Ia meraih sebuah kotak kayu dari balik tumpukan barang. Di dalamnya, tersimpan bukti-bukti pengkhianatan Han, surat-surat cinta untuk wanita lain, foto-foto mesra yang menghancurkan hatinya. Han terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Ia akhirnya mengerti, ia telah masuk ke dalam perangkap yang Mei pasang dengan hati-hati. Mei menyalakan korek api dan membakar kotak itu. Api menjilat-jilat kertas, menari dengan liar di kegelapan. "Aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan," kata Mei, matanya berkilat penuh dendam. "Aku ingin kau merasakan sakitnya dikhianati, sakitnya ditinggalkan, sakitnya kehilangan segalanya." Han berlutut di hadapan Mei, memohon ampun. Namun, Mei tidak bergeming. Ia menatap Han dengan tatapan kosong, seolah Han hanyalah bayangan yang akan segera lenyap. Api semakin membesar, menerangi wajah Mei yang dingin dan tanpa ampun. Di tengah kobaran api, ia berbisik, "Kau tidak tahu, Han... **bahwa anak yang dulu kukandung *bukanlah* anakmu.**"
You Might Also Like: 195 And Explore Miles That Separate You

Share on Facebook