**Hujan di Istana Terlarang** Hujan menggigil menerjang atap genting Istana Terlarang, suara yang menyesakkan dada Li Wei. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari *itu*, sejak mahkota kekaisaran lenyap di tengah upacara penobatan. Sepuluh tahun sejak tuduhan pengkhianatan dilayangkan padanya, dan wajah Yu Ling, yang dulunya penuh cinta, berubah menjadi batu es. Setiap tetes hujan adalah bayangan masa lalu. Bayangan Yu Ling, senyumnya yang dulu menghangatkan jiwa Li Wei, kini hanya memudar menjadi siluet menyakitkan. Dulu, mereka adalah sepasang merpati yang terbang bebas di atas bukit di luar istana, berjanji sehidup semati di bawah *cahaya rembulan*. Sekarang, mereka adalah dua orang asing yang terperangkap dalam labirin intrik dan kebencian. Lentera di koridor istana bergoyang lemah, cahayanya nyaris padam, persis seperti harapannya. Li Wei terpaksa menjalani hukuman sebagai tahanan di paviliun terpencil ini, dituduh bersekongkol dengan musuh untuk mencuri mahkota. Setiap hari adalah siksaan, setiap malam adalah pertempuran melawan ingatan. Yu Ling, yang kini menjadi *Kaisar Agung* yang disegani, jarang mengunjunginya. Jika pun datang, hanya tatapan dingin dan kata-kata tajam yang diterimanya. "Kau tahu, Li Wei, aku masih tidak mengerti. Mengapa kau melakukan ini padaku?" Li Wei hanya bisa menunduk, air mata bersembunyi di balik rambutnya yang kusut. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tidak sekarang. Kebenaran itu terlalu pahit, terlalu berbahaya untuk diungkapkan. "Kau merusak segalanya," lanjut Yu Ling, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau menghancurkan masa depan kita." "Maafkan aku," bisik Li Wei, kata-kata itu terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Yu Ling berbalik, meninggalkan Li Wei dalam kegelapan. Sebelum menghilang di balik pintu, ia sempat menoleh, dan untuk sesaat, Li Wei melihat secercah kesedihan di matanya. Tapi itu hanya berlangsung sekejap, sebelum digantikan kembali oleh tatapan dingin yang menusuk. Bertahun-tahun berlalu. Li Wei, yang dulunya adalah seorang pangeran yang berkuasa, kini hanya seorang tahanan yang terlupakan. Namun, di balik tatapan mata yang redup itu, bara api *balas dendam* membara. Ia telah merencanakan semuanya dengan cermat, menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membalas sakit hatinya. Suatu malam, seorang kasim datang ke paviliunnya dengan membawa secarik kertas. Tulisan di atasnya pendek dan jelas, "Saat bulan purnama tiba, naiklah ke atap." Li Wei tersenyum. Malam *itu* telah tiba. Dengan susah payah, ia memanjat atap paviliun yang reyot. Di bawah cahaya bulan purnama, ia melihat Yu Ling berdiri menunggunya. "Aku tahu," kata Yu Ling, suaranya datar. "Kau yang merencanakan semua ini, bukan?" "Ya," jawab Li Wei, suaranya tenang. "Aku yang mengambil mahkota itu. Aku yang menjebakmu." "Mengapa?" tanya Yu Ling, matanya berkaca-kaca. Li Wei tertawa getir. "Kau pikir aku melakukan ini untuk kekuasaan? Tidak, Yu Ling. Aku melakukan ini karena *kau* mengkhianatiku. Kau percaya pada tuduhan palsu itu. Kau tidak mempercayaiku." Yu Ling terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan Li Wei benar. Ia telah dibutakan oleh ambisi dan ketakutan. "Sudah terlambat, Yu Ling," kata Li Wei, sambil mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik jubahnya. "Keadilan harus ditegakkan." Saat Li Wei hendak menyerang, Yu Ling tiba-tiba tersenyum. "Kau tahu, Li Wei, kau *sama* sepertinya." Li Wei tertegun. *Siapa* yang dimaksud Yu Ling? Sebelum ia sempat bertanya, Yu Ling menusukkan pisau ke dadanya sendiri. Li Wei berteriak, mencoba menangkap tubuh Yu Ling yang ambruk. Tapi sudah terlambat. Yu Ling telah pergi. Di tangan Yu Ling, tergenggam sebuah gulungan kertas. Li Wei membukanya dan membaca isinya. Kata-kata di atasnya membakar hatinya. "Mahkota itu tidak dicuri, Li Wei. Mahkota itu *disembunyikan*, oleh seseorang yang lebih dekat dari yang kau kira... oleh **IBUMU**."
You Might Also Like: 22 Goyard St Louis Pm Shoujo Tsubaki

Share on Facebook