## Senyum yang Menjadi Pedang di Tengah Malam Aroma *plum blossom* di tengah malam selalu membangkitkan kesedihan aneh dalam diri Mei Lan. Di kehidupan ini, dia hanyalah seorang gadis penjual teh di tepi Kota Chang'an, namun bayangan masa lalu, kehidupan yang pernah ia jalani sebagai seorang putri dari Kerajaan Selatan, terus menghantuinya dalam mimpi. Mimpi itu adalah fragmen-fragmen kenangan: gaun sutra berwarna *jade*, aula istana yang megah, suara kecapi yang merdu... dan *pengkhianatan*. Dia ingat senyum manis He Xian, *kakak seperguruannya*, satu-satunya orang yang ia percayai. Senyum itu, di kehidupan lampau, adalah racun yang menenggelamkannya dalam lautan api dan dendam. He Xian menginginkan tahta, dan Mei Lan, sebagai pewaris sah, adalah satu-satunya penghalang. Setiap malam, Mei Lan melatih jurus pedang rahasia yang ia ingat secara *instingtif*, meskipun ia tidak pernah diajari oleh siapapun di kehidupannya saat ini. Pedang itu, terasa familier sekaligus asing di tangannya, seolah mengingat setiap tetes darah yang tumpah di kehidupan sebelumnya. Suatu malam, seorang pria misterius dengan jubah hitam datang ke kedai tehnya. Matanya, *tajam dan dingin*, membuatnya merinding. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Lin, seorang utusan dari Sekte Bulan Purnama. "Nona Mei Lan," ucap Lin, suaranya berbisik seperti angin malam. "Kami tahu siapa Anda *sebenarnya*. Kami tahu tentang Kerajaan Selatan, tentang Putri Mei Lan, dan tentang pengkhianatan He Xian." Jantung Mei Lan berdegup kencang. Bagaimana mungkin? Siapa pria ini? Lin menjelaskan bahwa Sekte Bulan Purnama telah lama mengawasi reinkarnasinya. Mereka telah menunggu saat yang tepat untuk mengungkap kebenaran dan menawarkannya sebuah *pilihan*: bergabung dengan mereka dan membalas dendam, atau terus hidup dalam ketidaktahuan. Mei Lan terdiam. Balas dendam? Bukankah itu hanya akan mengulangi siklus kekerasan yang sama? Namun, setiap kali aroma *plum blossom* memenuhi udara, bayangan He Xian kembali menghantuinya. Ia melihat senyum licik itu, mendengar suara tawanya yang menusuk. Ia melihat dirinya terbakar hidup-hidup, dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Keputusannya datang perlahan, seperti pedang yang ditarik dari sarungnya. "Aku... aku akan bergabung dengan kalian," ucap Mei Lan, suaranya bergetar namun penuh tekad. "Tapi balas dendamku... akan berbeda." Dia tidak akan membunuhnya. Dia tidak akan menodai tangannya dengan darah. *Tidak lagi*. Beberapa tahun kemudian, He Xian, yang kini menjadi seorang jenderal terkenal di istana, terkejut ketika mengetahui bahwa Sekte Bulan Purnama, yang selama ini menjadi ancaman bagi kekaisaran, memiliki mata-mata di sekelilingnya. Mata-mata itu, seorang ahli strategi yang cerdas dan licik, telah menghancurkan reputasinya, merusak aliansinya, dan membawa kekaisarannya ke ambang kehancuran. Ahli strategi itu dikenal dengan satu nama: Mei Lan. Mei Lan tidak membunuh He Xian. Dia *menghancurkan*nya. Dia mengambil semua yang pernah ia inginkan, semua yang ia curi darinya, dan membuatnya menjadi abu. Di saat-saat terakhir He Xian, ketika dia kehilangan segalanya dan menatap Mei Lan dengan tatapan putus asa, dia melihat senyum yang sama yang dulu ia lihat sebelum api membakar Kerajaan Selatan. Senyum itu, kini, adalah pedang yang menusuk jantungnya. Dan Mei Lan, berdiri di tengah malam, di bawah *plum blossom* yang bermekaran, hanya berkata: "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain."
You Might Also Like: 103 Kelebihan Pembersih Wajah Centella

Share on Facebook