Hujan menggigil di luar jendela kedai teh usang itu. Rinai tipisnya menelusup masuk melalui celah kayu, seolah turut merasakan dingin yang membeku dalam hati Li Wei. Ia menatap lentera yang cahayanya nyaris padam, bergoyang-goyang lemah seperti harapan yang hampir sirna. Di seberang meja, duduklah dia. Zhang He. Lelaki yang dulunya memenuhi hatinya dengan senyum, kini hanya menyisakan **LUKA** menganga. “Wei… aku…” suara Zhang He lirih, tertelan gemuruh hujan dan desahan napas Li Wei yang berat. Bayangan mereka memanjang di dinding, saling menjauh, *patah* oleh bias cahaya lentera. Lima belas tahun telah berlalu sejak pengkhianatan itu, sejak Zhang He memilih kekayaan dan kekuasaan daripada cintanya. Lima belas tahun Li Wei hidup dalam *kesunyian* yang memekakkan telinga. Li Wei mengangkat cangkir tehnya, menyeruput perlahan. Rasa pahit teh itu tak sebanding dengan pahitnya kenangan yang berputar di benaknya. Ia ingat janji-janji manis di bawah pohon sakura, ingat sentuhan lembut tangan Zhang He, dan ingat dengan jelas saat ia melihat Zhang He bersama perempuan lain, perempuan yang bergelimang harta. “Aku tahu… aku telah menyakitimu, Wei,” lanjut Zhang He. Ia tampak tua dan lelah. Kekuasaan yang dulu dikejarnya ternyata hanya menyisakan kesepian yang mendalam. “Aku menyesal.” Li Wei meletakkan cangkirnya. Matanya dingin, setajam pisau. “Penyesalan? Apa artinya penyesalan bagiku, Zhang He? Kau telah mengambil segalanya dariku.” Zhang He menunduk. Ia tak berani menatap mata Li Wei yang kini memancarkan **KEBENCIAN**. Ia pantas menerima semua ini. Ia pantas menderita. “Kau pikir aku hanya diam selama lima belas tahun ini?” tanya Li Wei, suaranya berbisik, namun menusuk seperti jarum es. “Kau pikir aku hanya meratapi nasibku?” Zhang He mengangkat kepalanya. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Li Wei. Ia merasakan hawa dingin yang menjalar di tulang punggungnya. “Aku tidak pernah melupakanmu, Zhang He. Setiap detik, setiap hembusan napas, aku merencanakan ini. Balas dendam yang manis.” Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Cahaya lentera menyoroti wajahnya, membuatnya tampak seperti *hantu* dari masa lalu. “Apa yang… apa yang kau lakukan?” Zhang He terbata-bata, ketakutan mulai mencengkeram hatinya. Li Wei bangkit dari duduknya. Ia mendekati Zhang He, membungkuk sedikit, lalu berbisik di telinganya, “Kau tahu tanah perkebunan tehmu yang begitu luas dan subur? Tempat yang kau banggakan itu… dibeli menggunakan uang yang kau curi dari *ayahku*.” Lalu, sebelum Zhang He sempat mencerna kata-katanya, Li Wei sudah melangkah keluar dari kedai teh, meninggalkan Zhang He yang terpaku di kursinya, diterpa hujan yang menggigil dan kegelapan yang abadi. Misteri besar itu baru saja terungkap, namun pertanyaannya tetap satu: Siapakah sebenarnya wanita yang menemui Zhang He lima belas tahun lalu dan menawarkan kekayaan yang mengubah segalanya… dan mengapa dia tahu tentang rencana balas dendam itu?
You Might Also Like: Crossword Answer For Animal Command 108

Share on Facebook