## Aku Menatap Lukisanmu, dan Warna Darahnya Masih Baru Hujan kota Seoul malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Butiran air memecah bias lampu neon di jalanan, menciptakan ilusi sungai yang berdarah-darah. Aku duduk di kafe langganan kita, menyesap Americano panas yang aromanya gagal menghangatkan hatiku. Di seberangku, bukan dirimu. Melainkan sebuah lukisan. Lukisanmu. Kanvas itu dipenuhi warna merah dan abu-abu. Sapuan kuas yang kasar, menggambarkan amarah yang kau pendam. Kata orang, lukisan adalah cerminan jiwa. Jika itu benar, maka jiwamu adalah labirin yang terjal. Dan aku, dengan bodohnya, tersesat di dalamnya. Notifikasi ponsel berdering. Itu hanya pengingat kalender. "Makan malam bersama, 20:00." Dulu, setiap notifikasi darimu terasa seperti detak jantung yang berpacu. Sekarang, hanya gaung kosong. **KOSONG!** Aku membuka aplikasi pesan. Sisa-sisa *chat* kita masih tersimpan rapi. Barisan kata-kata manis, janji-janji, dan emotikon hati yang sekarang terasa seperti tusukan pisau. Di antara semua itu, ada satu pesan yang tak pernah terkirim. Pesan yang kubuat saat amarahku memuncak, saat aku merasa kau menyembunyikan sesuatu. *“Siapa dia, Lee Minho? Siapa wanita di foto yang kau simpan di dompetmu?”* Aku tidak pernah mengirimkannya. Rasa cintaku terlalu besar untuk mengkhianati kepercayaan. *Kepercayaan*... Kata itu sekarang terasa seperti lelucon murahan. Kau menghilang begitu saja. Tanpa jejak, tanpa penjelasan. Meninggalkanku dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Polisi bilang ini kasus orang hilang biasa. Tapi aku tahu, ini bukan sekadar menghilang. Ini... *penghapusan.* Mimpi-mimpiku dipenuhi bayanganmu. Tawa renyahmu, sentuhan lembutmu, dan tatapan matamu yang penuh misteri. Semakin aku mencoba melupakanmu, semakin jelas kau hadir. Seperti tinta yang meresap ke dalam kain, tak bisa dihilangkan. Kemudian, aku menemukan lukisan ini. Lukisan yang kau tinggalkan di apartemenmu. Awalnya aku tidak mengerti. Aku hanya merasakan aura yang aneh, semacam... ketakutan. Namun, setelah berbulan-bulan menatapnya, aku mulai melihatnya. Aku melihat **rahasia**. Warna merah di lukisan ini bukan sekadar amarah. Itu adalah darah. Darah seorang wanita. Darah wanita yang ada di foto dompetmu. *Lee Minho, apa yang telah kau lakukan?* Aku tidak akan membiarkanmu lolos. Aku tidak akan membiarkanmu melupakan aku. Balas dendamku tidak akan berdarah-darah, tidak akan melibatkan polisi. Balas dendamku akan lebih kejam dari itu. Aku bangkit dari kursi, meninggalkan sisa Americano di meja. Aku meraih ponselku dan mengetik sebuah pesan. *“Lukisanmu indah. Tapi aku rasa, warna aslinya lebih cocok dipajang di galeri seni.”* Aku mengirimkannya ke nomor yang sudah lama tidak aktif. Kemudian, aku tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang penuh perhitungan. Aku tahu kau akan membaca pesan ini. Aku tahu kau akan mengerti. Aku meninggalkan kafe, berjalan menembus hujan kota Seoul. Aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Tapi setidaknya, aku telah memberikanmu hadiah. Hadiah yang tak akan pernah bisa kau lupakan. Dan hadiah itu adalah... ... kesunyian abadi.
You Might Also Like: 163 Anatomical Eye Pencil

Share on Facebook