Oke, ini dia draf kisah dracin modern berjudul 'Bayangan yang Mengintai di Balik Dupa', dengan bumbu puitis, sentuhan modern, dan akhir yang menggantung: **Bayangan yang Mengintai di Balik Dupa** Hujan kota menari di kaca apartemen, persis seperti jemariku yang mengetuk layar ponsel. Notifikasi *chat* darinya tak pernah datang lagi. Aroma kopi pahit menyesaki ruangan, sama pahitnya dengan *KENANGAN* yang enggan beranjak. Dulu, setiap notifikasi adalah simfoni. Setiap pesan, janji yang terukir di awan digital. Kita bertemu di dunia yang serba cepat ini, di antara *swipe*, filter, dan emoji. Cintamu terasa nyata, Han, sehangat mentari pagi setelah malam yang dingin. Tapi, mentari itu meredup. Pesan terakhirmu, "Aku butuh waktu," menggantung di ruang *chat* seperti kabut tebal. Waktu… untuk apa? Untuk melupakan aroma dupa cendana yang selalu kau bakar? Untuk menghapus *mimpi-mimpi* yang kita rajut bersama di antara baris kode dan *playlist* lagu indie? Aku mencoba mencari jawaban di balik *scroll* Instagram-mu, di antara foto-foto senyummu yang dulu hanya untukku. Tapi, yang kutemukan hanyalah *kepingan-kepingan* misteri. Seorang wanita. Sebuah cafe. Sebuah *TATAPAN* yang bukan lagi untukku. Semakin kucari, semakin dalam aku tersesat. Kehilangan itu terasa samar, seperti bayangan yang selalu mengintai di balik dupa. Aku mencoba menelepon, tapi nomormu tak lagi aktif. Aku mengirim email, tapi tak ada balasan. Kau menghilang, Han. Seperti uap yang terbang bersama angin. Rahasia hubungan kita yang belum selesai itu perlahan terkuak. Aku menemukan *folder* tersembunyi di laptopmu. Foto-foto. Surat-surat. Semua tentangnya. Wanita itu. Kekasihmu yang lebih dulu ada. Aku hanyalah... *PELARIAN*? Amarah membara, tapi hatiku hancur berkeping-keping. Aku ingin berteriak, mencaci, membalas dendam. Tapi, dendamku berbeda, Han. *Lembut*. Aku membuka aplikasi *chat*. Jari-jariku gemetar. Aku mengetik sebuah pesan. Bukan makian. Bukan air mata. Hanya satu kalimat. "Terima kasih atas kenangannya, Han. Aku *IKHLAS*." Aku mengirim pesan itu. Kemudian, aku memblokir nomormu. Menghapus semua fotomu. Membersihkan jejakmu dari setiap sudut *DUNIA DIGITALKU*. Balas dendamku bukan tentang menghancurkanmu, Han. Tapi, tentang *MEMBEBASKAN DIRIKU SENDIRI*. Aku membakar dupa cendana yang dulu kau suka. Aroma itu kini terasa berbeda. Bukan lagi aroma cinta, tapi aroma perpisahan. Aku tersenyum. *Senyum terakhir untukmu*. Aku memutuskan untuk pindah kota. Memulai hidup baru. Tanpa *BAYANGAN* masa lalu. Ponselku berdering. Sebuah notifikasi. Email dari alamat yang tidak kukenal. Subject: "Maaf." Aku membukanya. Hanya ada satu *ATTACHMENT*: sebuah foto. Foto kita berdua. Senyum kita. Bahagia. Di bawah foto itu tertulis: "*Aku selalu mencintaimu, dengan cara yang KUBISA*." Aku menutup email itu. Tanpa membalas. Tanpa air mata. Dan di layar ponselku, tertera: "Pesan ini akan dihapus otomatis dalam 24 jam." *Mungkin, menghilang adalah satu-satunya cara untuk benar-benar ada.*
You Might Also Like: Ini Baru Drama Bayangan Yang Kembali

Share on Facebook