**Aku Menolakmu dengan Logika, Tapi Hatiku Menjawab dengan Rindu** Hujan luruh di atas pusara. Bukan gerimis biasa, melainkan air mata langit yang tak tertahankan. Di bawah payung hitam yang tak cukup menutupi dingin malam, aku berdiri. Bukan sebagai manusia, melainkan bayangan yang menolak pergi. Arwah. Itu aku. Dulu, aku bernama Lin Mei. Seorang akuntan yang hidupnya teratur seperti kolom angka. Cinta? Hanya ilusi. **TERLALU RISKAN.** Itulah mengapa aku menolak Chen Yi, pria dengan senyum sehangat mentari dan tatapan yang menyimpan seluruh samudra. Aku bilang, "Logikaku tak menemukan tempat untukmu." Tapi, di balik dinding logika itu, hatiku berteriak *rindu*. Kini, logika itu lenyap bersama denyut nadi terakhirku. Aku mati dalam kecelakaan aneh. Tak ada yang percaya, mobilku tiba-tiba hilang kendali di jalan lurus. Chen Yi, hatinya hancur berkeping-keping. Matanya kosong. Aku ingin memeluknya, mengatakan semua penyesalanku, tapi aku hanya roh. Tak berdaya. Malam demi malam, aku mengikutinya. Menyaksikan kesedihannya menggerogoti jiwanya. Di saat itulah, aku menyadari: kematianku bukan kecelakaan biasa. Ada *BAYANGAN* yang mengintai. Seseorang menginginkan Chen Yi menderita. Seseorang yang sangat dekat dengannya. Dunia arwah adalah dunia *sunyi*, namun indah. Seperti lukisan tinta yang dilukis di atas sutra kabut. Aku bisa melihat melampaui batas dunia manusia, merasakan energi, mendengar bisikan masa lalu. Aku melacak jejak energi negatif itu, membawaku ke sebuah apartemen mewah, milik Li Wei. Sahabat Chen Yi. Li Wei. Pria yang selalu tersenyum tulus. Tapi, di dalam hatinya, ia menyimpan iri dengki yang membara. Ia mencintai wanita yang dicintai Chen Yi. Aku. Ia merencanakan kecelakaan itu. Ia merusak rem mobilku. Ia ingin menghancurkan Chen Yi dengan merebut segalanya darinya. Amarah membakar diriku. Tapi, dendam tak akan membawaku kemana-mana. Tujuan ku bukanlah pembalasan, melainkan *KEDAMAIAN*. Kedamaian untuk Chen Yi, kedamaian untuk diriku sendiri. Aku menggunakan kemampuanku sebagai roh, mengganggu Li Wei. Membisikkan kata-kata penyesalan di telinganya saat ia tidur. Menunjukkan bayangan mengerikan di cermin. Membuat hidupnya menjadi neraka. Akhirnya, Li Wei menyerah. Ia mengaku pada polisi. Air mata penyesalan membasahi wajahnya. Chen Yi memaafkannya. Saat keadilan ditegakkan, beban di pundakku terasa ringan. Aku melihat Chen Yi tersenyum lagi. Bukan senyum ceria yang dulu, tapi senyum yang tulus, penuh kelegaan. Aku berdiri di samping pusaraku, memandangi Chen Yi yang menaburkan bunga. Ia mengucapkan sesuatu yang tak bisa ku dengar. Tapi, aku tahu, ia merindukanku. Dan aku, selalu merindukannya. Cahaya mentari pagi menyentuh wajahku. Wujud rohku mulai memudar. Inilah saatnya pergi. Aku telah menuntaskan apa yang tertinggal. Aku telah menemukan kedamaian. Mungkin, setelah kematian ini, aku akan dilahirkan kembali. Mungkin, aku akan bertemu dengannya lagi. Dan saat itulah, aku akan berani mengatakan...
You Might Also Like: Cardboard Gods Dale Berras Transcendent

Share on Facebook