Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin berjudul 'Pelukan yang Mengikat Dendam': **Pelukan yang Mengikat Dendam** Hujan gerimis jatuh di Kota Terlarang, serupa air mata yang tak henti mengalir. Mei Hua berdiri di bawah payung sutra, gaun cheongsam birunya memantulkan cahaya redup lentera. Di seberangnya, berdiri Li Wei, *cinta* yang dulu memenuhi hatinya, kini hanya menyisakan kehampaan yang membekukan. Senyum Li Wei masih sama, ***menipu***. Dulu, senyum itu adalah matahari baginya, kini hanyalah ilusi yang melukai. "Mei Hua, aku..." Mei Hua mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata yang tak ingin ia dengar. "Jangan dilanjutkan, Yang Mulia. Aku sudah tahu." Dulu, tangan itu selalu merindukan ***pelukan*** Li Wei. Sekarang, ia merasakan bahwa pelukan itu bagaikan *racun* yang perlahan membunuhnya dari dalam. Janji-janji yang pernah terucap, kini berubah menjadi ***belati*** yang menusuk jantungnya berkali-kali. "Aku... terpaksa," bisik Li Wei, matanya dipenuhi penyesalan yang terlambat. Mei Hua tertawa pelan, suara yang getir dan pahit. "Terpaksa? Kata yang mudah sekali diucapkan, Yang Mulia. Tapi luka yang ditorehkannya, akan abadi." Ia tahu, Li Wei menikahi putri dari kerajaan tetangga demi kekuasaan. Keputusan yang akan membawa kerajaannya menuju kejayaan, tapi menghancurkan hati Mei Hua menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Ia membalas tatapan Li Wei, matanya dingin namun ***tenang***. Tidak ada amarah, tidak ada teriakan. Hanya kekosongan yang mendalam. Bertahun-tahun ia habiskan untuk belajar etika istana, menyembunyikan perasaan di balik ***elegansi*** seorang wanita terhormat. Sekarang, semua itu berguna. "Selamat atas pernikahan Anda, Yang Mulia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda dan permaisuri," ucap Mei Hua, suaranya bagai alunan harpa yang lembut. Li Wei terdiam, wajahnya pucat. Ia tahu, Mei Hua tidak akan pernah memaafkannya. Bukan dengan amarah, bukan dengan air mata, melainkan dengan ketenangan yang justru jauh lebih menyakitkan. Hari-hari berlalu. Li Wei naik tahta, kerajaannya semakin makmur, seperti yang ia inginkan. Namun, setiap malam, ia selalu dihantui bayangan Mei Hua, bayangan wanita yang ia khianati. Kebahagiaan yang ia raih, terasa hambar dan tidak lengkap. Bertahun-tahun kemudian, ketika Li Wei telah menjadi kaisar yang disegani, ia menerima sebuah hadiah. Sebuah lukisan indah, potret Mei Hua. Di bawah lukisan itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta emas: "Kenangan manis akan menjadi ***penyesalan abadi***." Li Wei menatap lukisan itu, hatinya tercabik. Balas dendam Mei Hua tidak datang dalam bentuk darah atau kehancuran. Balas dendamnya adalah ***penyesalan*** yang akan terus menggerogoti jiwanya hingga akhir hayat. Ia menyadari, kekuasaan dan kejayaan tidak berarti apa-apa tanpa cinta yang tulus. Ia kehilangan segalanya demi ambisi, dan kini ia harus hidup dengan ***kehilangan*** itu. Di saat itulah, Li Wei mengerti: *cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama*.
You Might Also Like: New Discover Credit Card Logo Markets

Share on Facebook