Drama Seru: Cinta Yang Kuterima Sebagai Kutukan
Langit Kota Terlarang malam itu menghitam, persis hatiku. Butir-butir salju jatuh perlahan, menempel di bulu mata, meleleh menjadi air mata yang sudah lama tak berhenti. Di hadapanku, Kaisar Li Wei berdiri, TEGAP dalam jubah naga emasnya. Dulu, jubah itu adalah janji. Janji masa depan bersamanya. Janji cinta abadi. Sekarang, hanya kutukan.
"Aku minta maaf, Xiao Rou." Suaranya berat, senada dengan beban yang ia pikul. Beban kekaisaran. Beban wanita lain di sisinya.
Dulu, aku adalah cinta pertamanya, seorang putri dari kerajaan taklukan yang berhasil menaklukkan hatinya. Dia berjanji akan mengangkatku menjadi Permaisuri, berjanji hanya akan mencintaiku. Tapi tahta mengubah segalanya. Kekuatan membutakan. Kepentingan negara meremukkan hati.
"Maaf?" Bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan. "Kata maafmu tidak bisa mengembalikan tahun-tahun yang kuberikan. Kata maafmu tidak bisa menghapus air mata dan pengkhianatan yang kuterima."
Ia mendekat, mencoba menyentuh pipiku. Aku mundur. Sentuhannya dulu adalah kehangatan yang kunantikan. Sekarang, hanya bara api yang membakar.
"Xiao Rou, kau tahu aku tidak punya pilihan. Demi kerajaan…"
Demi kerajaan? Demi kekuasaan! Aku mencibir dalam hati.
"Kau berjanji akan melindungiku. Kau berjanji akan selalu bersamaku. Janji-janji itu, Li Wei, hanyalah debu yang tertiup angin!"
Air mataku akhirnya tumpah, membasahi pipiku. Aku melihat kesedihan di matanya, tapi kesedihan itu TERLAMBAT. Terlalu terlambat untuk mengembalikan hatiku yang hancur. Terlalu terlambat untuk menebus janji yang ia ingkari.
Malam itu, aku diusir dari istana. Bukan sebagai Permaisuri, melainkan sebagai seorang wanita yang cintanya DIKHIANATI. Aku meninggalkan istana dengan hati remuk, tapi dengan tekad membara. Aku tidak akan membalas dendam dengan tangan kosong. Aku tidak akan menggunakan sihir atau intrik. Biarkan takdir yang menuntut keadilan.
Bertahun-tahun kemudian, aku mendengar kabar. Kaisar Li Wei menderita sakit parah. Tabib kerajaan tak mampu menyembuhkannya. Istana dilanda kekacauan. Aku tersenyum tipis. Penyakit itu, aku tahu, bukan penyakit biasa. Itu adalah konsekuensi dari pilihan yang ia buat. Konsekuensi dari hati yang ia hancurkan.
Suatu malam, aku berdiri di luar gerbang Kota Terlarang, menatap langit yang kelam. Angin bertiup kencang, membawa serpihan ingatan tentang cinta yang pernah ada. Tentang janji yang pernah diucapkan. Tentang dendam yang kini perlahan terwujud.
Apakah ini pembalasan atau sekadar harga yang harus dibayar untuk cinta yang mati, hanya waktu yang akan menjawab, dan waktu adalah hakim yang tak kenal ampun.
You Might Also Like: Unveiling Icd Codes For Tonsil Stones