## Cinta yang Menjadi Legenda Kabut ungu menyelimuti Puncak Awan, tempat Bai Lian, Sang Dewi Bulan, menghabiskan keabadiannya. Di bawahnya, di dunia fana yang bergejolak, Li Wei, Sang Jenderal Pembantai, memimpin pasukannya menuju kemenangan demi kemenangan. Mereka terhubung oleh benang takdir, terpisahkan oleh jurang yang tak terlewati. Dulu, saat bulan masih malu-malu menyembunyikan sinarnya, mereka bertemu. Bai Lian turun ke dunia fana, penasaran dengan tawa dan air mata manusia. Li Wei, seorang prajurit muda yang berani, melindunginya dari bahaya. Tanpa nama, tanpa gelar, mereka berbagi musim semi yang singkat namun **ABADI**. Li Wei berjanji, di bawah pohon persik yang mekar sempurna, "Aku akan menemuimu di Puncak Awan. Aku akan menjadi layak untukmu." Namun, ambisi adalah racun yang mematikan. Li Wei, terlilit intrik istana dan haus akan kekuasaan, mengkhianati janjinya. Ia menikahi putri kaisar, mendaki tangga kekuasaan dengan darah dan tipu daya. Bai Lian menyaksikan semuanya dari kejauhan, hatinya hancur berkeping-keping seperti kristal es yang jatuh ke tanah. Momen itu tiba di medan perang. Li Wei, sekarang Jenderal yang ditakuti, berhadapan dengan pasukan pemberontak. Di tengah badai pedang dan teriakan kematian, ia melihatnya. Bai Lian, mengenakan jubah putih yang berkilauan, berdiri di atas bukit. Matanya, sebulan sabit yang dingin, menatapnya tanpa ampun. Li Wei, yang tak pernah gentar di hadapan musuh mana pun, membeku. Ia mencoba berbicara, memanggil namanya, menjelaskan… tapi kata-katanya tertelan debu dan jerit perang. Ia melihat **PENYESALAN** dalam tatapan Bai Lian, penyesalan yang tak bisa ditebus, cinta yang terlambat disadari. Bai Lian tak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangkat tangannya. Dan dengan kekuatan yang melampaui pemahaman manusia, ia memanggil badai yang dahsyat. Angin menderu, awan hitam menggantung rendah, dan petir menyambar tepat di tempat Li Wei berdiri. Pasukannya terpukul mundur, pemberontak meraih kemenangan. Li Wei hilang, ditelan amarah langit dan bumi. Kematian Li Wei dicatat sebagai kekalahan yang tragis, pengorbanan seorang pahlawan. Hanya sedikit yang tahu kebenaran di balik badai itu. Hanya Bai Lian yang tahu bahwa itu bukan sekadar amukan alam. Itu adalah penyesalan yang menjelma menjadi badai, cinta yang berubah menjadi **KEADILAN**. Dan dari sana, kisah mereka menjadi legenda. Legenda tentang Dewi Bulan dan Jenderal Pembantai, tentang cinta yang terlambat dan janji yang dilanggar. Legenda tentang seorang wanita yang kehilangan cintanya, dan seorang pria yang kehilangan segalanya demi ambisi. Di Puncak Awan, Bai Lian masih menunggu. Menunggu fajar yang tak kunjung tiba, di mana cinta dan dendam bertemu dalam hening abadi: **Apakah takdir yang kejam, atau hatiku yang tak bisa memaafkan?**
You Might Also Like: Cerita Seru Aku Memeluk Bayanganmu
Share on Facebook