Baiklah, ini dia cerita pendek yang kamu inginkan: **Aku Menangis Saat Mendengar Namamu di Tubuh Lain** Aroma dupa cendana menusuk hidungku, terlalu kuat, namun entah mengapa menenangkan. Di kedai teh *kumuh* ini, di jantung kota Shanghai yang bergemuruh, aku, Lin Wei, seorang desainer grafis biasa, tiba-tiba merasa seperti hidup di tempat yang *salah*. Bayangan istana megah dan padang salju seakan berputar di kepalaku, gambaran yang asing namun terasa **TERAMAT** dekat. Suara itu… suara lembut bernada cemoohan itu yang membuatku tersentak. "Mei Lan? Apa kabar, *Xiao* Mei?" Di meja seberang, seorang pria berkemeja linen putih tersenyum pada wanita cantik yang duduk di hadapannya. Tapi bukan senyuman atau wanita itu yang membuat jantungku serasa ditusuk ribuan jarum. Melainkan nama itu. Mei Lan. Nama yang *selalu* kutelan bersama air mata dalam mimpi-mimpi anehku. Seminggu setelah kejadian itu, kilasan-kilasan masa lalu semakin sering menghantuiku. Aku melihat diriku, bukan Lin Wei, melainkan seorang selir kesayangan Kaisar Agung, *terjebak* dalam intrik dan perebutan kekuasaan di istana terlarang. Aku ingat tawa Mei Lan, sahabatku, saudara perempuanku, yang ternyata menikamku dari belakang, merebut cintaku, merebut takhtaku, merebut… hidupku. Pria berkemeja linen itu, ternyata adalah Chen Yi, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia… adalah Kaisar Agung dalam mimpiku. Dan Mei Lan… dia tetap Mei Lan. Aku tahu ini gila. Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi setiap sel dalam tubuhku *mengingat* pengkhianatan itu. Dendam bersemi, bukan dendam membara yang menghancurkan, melainkan dendam dingin yang penuh perhitungan. Aku mulai mendekati Chen Yi, bukan sebagai selir yang merana, tapi sebagai Lin Wei yang cerdas dan mandiri. Aku menarik perhatiannya dengan kecerdasan, selera humor, dan aura misterius yang entah dari mana muncul. Aku menawarkannya sebuah *investasi* yang akan melipatgandakan kekayaannya, sebuah proyek desain yang inovatif dan berani. Sebuah proposal yang membuatnya terpukau. Mei Lan, atau lebih tepatnya Wang Mei Lan, mulai menunjukkan ketidaksukaan. Ia merasakan ancaman, bukan dari selir yang dulu lemah, tapi dari wanita modern yang kuat. Aku tersenyum dalam hati. Balas dendamku bukan dengan pedang atau racun, melainkan dengan ***KEBEBASAN*** memilih takdir Chen Yi. Di hari penandatanganan kontrak, Chen Yi menatapku dengan mata penuh minat. "Lin Wei, kau wanita yang luar biasa." Aku balas menatapnya, senyumku tipis namun penuh makna. "Terima kasih, Chen Yi. Semoga keputusan ini membawa kebaikan bagimu… dan bagi Mei Lan." Aku tahu, proyek ini akan membuat Mei Lan kehilangan segalanya. Bukan harta benda, melainkan *kekuatan* atas Chen Yi. Aku meninggalkan mereka berdua di ruangan itu, merasakan beban ribuan tahun terangkat dari pundakku. Aku tidak membalas dendam secara langsung, aku hanya… menggeser takdir, membuka jalan bagi karma untuk bekerja. Aku melangkah keluar, menuju malam Shanghai yang bergemerlapan. Suara hatiku berbisik lirih, "Kita akan bertemu lagi, entah di kehidupan mana…"
You Might Also Like: Kelebihan Sabun Cuci Muka Centella
Share on Facebook