**Langit yang Membara, Siluetmu yang Hilang** Hujan menggigil di luar jendela, persis seperti malam itu, lima tahun lalu. Aroma kayu cendana dari lentera yang nyaris padam di meja kerja tidak mampu menghangatkan hatiku yang membeku. Aku menatap langit yang memerah, seolah terbakar amarah dewa. Tapi di antara kobaran itu, mataku hanya mencari satu siluet: siluetmu, **Lin Wei**. Dulu, di bawah langit yang sama, kita berjanji untuk selamanya. Sentuhanmu, senyummu, semua terukir dalam setiap serat ingatanku. Namun, bayangan pengkhianatanmu membentang panjang, mematahkan bayangan cintaku menjadi serpihan tak berbentuk. Kau memilih dia, Li Mei, sahabatku, demi kekayaan dan kekuasaan. Setiap tetes hujan yang jatuh adalah air mata yang tak pernah bisa kutumpahkan. Setiap hembusan angin adalah bisikan kenangan yang menyayat. Aku menyimpan semua rasa sakit ini dalam diam, merajut benang-benang dendam di balik senyum palsuku. Aku melihatmu dari jauh, Lin Wei. Kau hidup dalam kemewahan, dikelilingi oleh pujian dan sanjungan. Kau tampak bahagia, tapi matamu menyimpan kehampaan yang tak bisa kau sembunyikan. Apakah kau pernah memikirkanku? Apakah kau pernah menyesali pilihanmu? Aku tahu, jauh di lubuk hatimu, kau masih menyimpan sedikit rasa untukku. Rasa itu, Lin Wei, akan menjadi kelemahanmu. Tahun-tahun berlalu, aku membangun kerajaan bisnisku sendiri. Kekayaan dan kekuasaan kini berada di genggamanku. Aku berinteraksi denganmu, tersenyum padamu, bahkan berpura-pura memaafkanmu. Kau tidak tahu, Lin Wei, bahwa setiap kata manis yang kuucapkan adalah racun yang perlahan membunuhmu. Li Mei, sahabatku yang terkhianati, kini berada di sisiku. Dia juga terluka, sama sepertiku. Bersama, kami merencanakan kehancuranmu. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kecerdasan. Malam ini, langit benar-benar terbakar. Api menyala di mana-mana, melahap habis kekayaan dan kekuasaanmu. Li Mei berdiri di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat. Di matanya, kulihat refleksi dari api yang membara. Kau datang padaku, Lin Wei. Wajahmu pucat pasi, matamu penuh ketakutan. Kau memohon ampun, memohon belas kasihan. Tapi aku hanya bisa tersenyum dingin. "Aku melakukan ini bukan karena aku mencintaimu, Lin Wei," bisikku di telingamu. "Aku melakukan ini karena aku *membencimu*." Saat kulihat kekalahan mutlak di matamu, aku merasakan kepuasan yang mengerikan. Semua rasa sakit, semua air mata, semua pengkhianatan terbayar lunas. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku, sebuah pertanyaan yang selalu menghantuiku. Kini semuanya berakhir, semua terbakar rata dengan tanah, tapi dibalik semua ini... **APAKAH AKU BENAR-BENAR MEMILIH BALAS DENDAM, ATAU...**?
You Might Also Like: Drama Populer Rahasia Yang Menjadi
Share on Facebook