## Dendam di Bawah Lentera Senja Hujan menggigil membasahi atap paviliun tua. Tetesnya bagai jarum yang menusuk, menusuk kenangan yang berusaha kulupakan. Aroma tanah basah dan melati yang mati perlahan mengingatkanku pada sosoknya. **LIAN**, nama itu bagai racun manis yang masih mengalir di nadiku. Lima tahun telah berlalu sejak pengkhianatannya. Lima tahun sejak janji suci di bawah pohon plum yang bersemi menjadi abu. Aku, Lin Yi, dulu adalah pria yang dipenuhi cinta dan cita-cita. Sekarang, bayangan yang patah, berjalan dalam remang lentera senja yang nyaris padam. Setiap langkah yang kupijak di tanah yang dulunya kita rambah bersama, terasa bagai beban batu yang menekan dada. Dulu, suara tawanya adalah melodi yang menenangkan jiwaku. Sekarang, hanya keheningan yang mencekam, diselingi gemericik hujan yang tak pernah berhenti. Kulihat siluetnya dari kejauhan. Lian, dengan gaun sutra berwarna rembulan, berdiri di tepi danau. Cahaya lentera yang dipancarkan paviliun memantulkan kesedihan yang mendalam di matanya. Apakah dia menyesal? Apakah dia merindukanku? Pertanyaan-pertanyaan itu bagai belati yang berputar-putar di hatiku, menimbulkan luka yang tak pernah sembuh. Aku ingat malam itu, malam pengkhianatan itu. Aku melihatnya, Lian, di pelukan pria lain. Pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tak mampu ku tandingi. Pria yang, ironisnya, adalah sahabatku sendiri. ***RASANYA DUNIAKU RUNTUH!*** Aku tidak menemuinya saat itu. Aku memilih menghilang, menelan pil pahit pengkhianatan dan membangun kembali diriku dari reruntuhan. Aku belajar, aku merencanakan, aku mengasah dendamku bagai sebilah pedang. Lima tahun berlalu, dan aku kembali. Bukan sebagai Lin Yi yang naif dan penuh cinta, tapi sebagai pria yang penuh perhitungan dan haus akan pembalasan. Aku mendekatinya perlahan, menyamar sebagai pedagang teh dari desa terpencil. Aku mengamati, aku mempelajari kelemahannya, dan aku menunggu momen yang tepat. Malam ini, di bawah hujan yang menggigil dan cahaya lentera yang nyaris padam, momen itu tiba. Aku mendekatinya, berdiri tepat di belakangnya. Suaranya bergetar saat dia memanggil namaku, "Lin Yi...?" Aku tersenyum. Senyum dingin yang tak lagi mencerminkan cinta. "Sudah lama, Lian." Dia berbalik, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku minta maaf." Maaf? Setelah semua yang dia lakukan? Maaf tidak akan mengembalikan hatiku yang hancur. Maaf tidak akan menghapus rasa sakit yang ku tanggung selama ini. Aku mengangkat tangan, menyentuh pipinya yang basah. "Maaf... tidak akan cukup." Di bawah cahaya lentera yang semakin meredup, aku menyaksikan ketakutan di matanya. Ketakutan yang selama ini kurindukan. Ketakutan yang akan menjadi awal dari kejatuhannya. Saat itulah aku membisikkan rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat, rahasia yang akan menghancurkan seluruh kehidupannya: "Sebenarnya... **Akulah yang menjebakmu malam itu!**"
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Bertemu Kucing

Share on Facebook