Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Berkata Aku Segalanya, Tapi Membuktikan Aku Bukan Apa-Apa** Di antara kabut pagi Kota Terlarang, di antara suara lonceng angin bambu yang lirih, Lin Mei, seorang pelukis istana yang baru diangkat, merasakan *deja vu* yang aneh. Setiap sudut, setiap ukiran naga, setiap aroma dupa cendana, terasa familiar sekaligus asing. Ia merasa seperti pernah hidup di sini, atau mungkin, pernah mati di sini. Lin Mei memiliki bakat luar biasa. Lukisannya bukan sekadar goresan tinta, melainkan jendela menuju jiwa. Kaisar, yang dikenal dingin dan penuh perhitungan, terpikat olehnya. Kaisar Zhou, nama yang membuat jantung Lin Mei berdebar tanpa alasan. Suatu malam, saat bulan purnama menggantung sempurna di langit, Kaisar Zhou memanggil Lin Mei ke paviliun rahasia. Di sana, di bawah cahaya lentera redup, Kaisar Zhou berkata, "Mei'er, kau adalah *segalanya* bagiku. Sumber inspirasiku, pelipur laraku, satu-satunya yang mengerti diriku." Kata-kata itu terasa manis, namun anehnya, Lin Mei merasakan pahit di lidahnya. Bayangan masa lalu mulai menari di benaknya. Seorang wanita dengan gaun sutra merah darah, berlutut di hadapan Kaisar, memohon ampun. Wajah wanita itu… wajahnya sendiri? Ingatan demi ingatan mengalir deras. Ia adalah Selir Mei, kesayangan Kaisar Zhou di kehidupan sebelumnya. Ia dibutakan oleh cinta, dan *kepercayaan butanya* menjadi senjatanya sendiri. Ia dituduh berkhianat, difitnah oleh seseorang yang sangat dekat, dan dieksekusi tanpa ampun. Siapa pengkhianat itu? Bayangan itu samar, namun suara itu… suara yang sangat familiar. Suatu hari, Lin Mei menemukan sebuah kotak musik tua di loteng istana. Ketika dibuka, melodi yang keluar begitu memilukan, melodi yang sama persis dengan lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan Selir Mei untuk Kaisar Zhou. Di dalam kotak itu, tersembunyi sebuah surat. Surat itu ditulis oleh Selir Yu, sahabat karib Selir Mei. Kata-katanya penuh racun, mengungkap bahwa Selir Yu telah lama mencintai Kaisar Zhou dan *rela melakukan apa saja* untuk merebutnya. Selir Yu telah memfitnah Selir Mei, menggunakan posisinya sebagai selir kepercayaan untuk meracuni hati Kaisar. Lin Mei menatap lukisan Kaisar Zhou yang sedang dikerjakannya. Matanya tidak lagi memancarkan cinta, melainkan ketenangan yang dingin. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Keesokan harinya, Lin Mei menyelesaikan lukisannya. Lukisan itu bukan potret Kaisar Zhou yang agung, melainkan potret dirinya sendiri, Selir Mei, dengan tatapan *menghantui*. Kaisar Zhou terkejut. Ia merasa seperti melihat hantu masa lalu. "Kaisar," kata Lin Mei dengan suara tenang, "Saya akan meninggalkan istana. Saya ingin melukis dunia, bukan hanya wajah seorang Kaisar." Kaisar Zhou terdiam. Ia tahu, kepergian Lin Mei adalah sebuah *kehancuran*. Ia kehilangan segalanya, bukan karena pengkhianatan, melainkan karena pilihannya sendiri di masa lalu. Ia telah *membuktikan* bahwa Selir Mei, wanita yang pernah ia sebut segalanya, *bukan apa-apa* baginya. Lin Mei meninggalkan istana tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak membutuhkan balas dendam yang kejam. Kebahagiaannya sendiri, *kebebasannya*, adalah balas dendam yang paling manis. Di kejauhan, di bawah langit senja yang keemasan, ia berbisik, "Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu dalam keadaan yang berbeda. Dan saat itu… aku akan *memilih*."
You Might Also Like: Sabo Street Art Sabos Story Guerrilla

Share on Facebook