Baiklah, inilah kisah Dracin dengan nuansa takdir berjudul 'Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan', yang ditulis dalam bahasa Indonesia: **Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan** Hujan abu memutihkan Shanghai. Aku, Lin Mei, berdiri di balkon apartemenku, menatap nanar. Seratus tahun. Seratus tahun sejak janji itu terucap, sejak *dosa* itu terpatri dalam jiwa kami. Seratus tahun sejak aku kehilangan dia. Sekarang, aku bahkan tak percaya lagi pada harapan, apalagi cinta. Lalu, dia datang. Namanya Zhang Wei. Seorang arsitek muda dengan mata yang menatapku seolah mengenalku *lebih* dari diriku sendiri. Suaranya…suara itu… seperti melodi yang sudah lama *hilang*, sebuah lagu pengantar tidur dari mimpi yang terlupakan. Aku menolak. Aku mendorongnya menjauh. Tak mungkin. Reinkarnasi hanyalah cerita. Tapi, tiap kali aku melihatnya, *bunga lotus* di taman rumahku bermekaran lebih cepat. Bunga lotus putih, kesukaannya. Bunga lotus yang dulu kutanam di tepi danau di kediaman keluarga Qin. Pertemuan kami terjadi berulang kali, seperti *déjà vu* yang tak terhindarkan. Di kedai teh tua, di galeri seni, bahkan di tengah keramaian jalanan. Setiap sentuhan tangannya mengirimkan getaran aneh, menggali kenangan yang terkubur dalam. Mimpi-mimpi mulai menghantuiku: malam berdarah, sumpah setia di bawah *bulan purnama*, pengkhianatan, dan suara teriakan yang memilukan. Zhang Wei memberiku sebuah kotak musik antik. Kotak itu memainkan lagu yang sama dengan lagu pengantar tidur itu. Di dalamnya, terdapat sepotong *giok* berbentuk naga. Persis seperti yang kuberikan padanya, sebelum…sebelum semuanya hancur. "Aku merasa…aku *harus* menemukanmu," katanya suatu malam, suaranya bergetar. "Seperti ada tali yang tak terlihat menarikku padamu." Perlahan, misteri masa lalu kami terungkap. Kami, Qin Lian dan Li Wei, sepasang kekasih yang terpisahkan oleh ambisi dan intrik politik di era dinasti Qing. Li Wei, karena ketulusannya, dijebak atas tuduhan pengkhianatan dan dieksekusi. Qin Lian, untuk melindungi keluarganya, terpaksa menikah dengan seorang jenderal kejam, tapi hatinya hancur berkeping-keping. Sebelum meninggal, Qin Lian bersumpah akan membalas dendam, bukan dengan pedang, tapi dengan *pengampunan*. Dan inilah *kebenaran pahit* itu. Zhang Wei adalah reinkarnasi dari Li Wei, tapi reinkarnasi yang dibebani dosa masa lalu. Dosa pengkhianatan yang dilakukan oleh keluarga Qin, yang kini mengalir dalam darah Zhang Wei sendiri. Aku menatapnya. Tanpa amarah. Tanpa teriakan. Hanya keheningan. Keheningan yang lebih menusuk dari pedang terasah. Aku mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya. "Aku sudah memaafkanmu, Li Wei," bisikku. "Seratus tahun lalu, aku berjanji akan membalas dendam dengan pengampunan. Sekarang… janjiku sudah kupenuhi." Aku pergi. Meninggalkannya berdiri di tengah hujan abu. Meninggalkannya dengan beban masa lalu yang tak tertahankan. Aku tidak membalas dendam dengan kemarahan. Aku membalas dendam dengan *keheningan* dan pengampunan. Lebih menyakitkan, bukan? Saat aku menaiki taksi, aku mendengar bisikan dari kehidupan sebelumnya: *“Jangan lupakan aku, Qin Lian…”*
You Might Also Like: The Hidden Factors Influencing Rotator

Share on Facebook