**Kaisar itu Menangis, tapi Air Matanya Bukan untuk Rakyat** Di tengah hamparan Istana Emas yang megah, Kaisar Li Wei, yang perkasa dan ditakuti, berlutut di depan altar. Api dupa menari-nari, menjilat udara dengan aroma cendana yang memabukkan. Namun, mata sang kaisar berkaca-kaca, bukan karena doa, bukan karena kebesaran kerajaannya, melainkan karena *wanita*. Dia adalah Mei Lan, selir kesayangan yang telah lama pergi, diambil penyakit misterius yang mencengkeram istana seperti racun. Li Wei, sang kaisar yang tak terkalahkan di medan perang, tak berdaya melawan maut yang merenggutnya. "Mei Lan... Mei Lan-ku," bisiknya, suara seraknya menggema di aula sunyi. Dulu, kata-kata ini diucapkan dengan kasih sayang, bisikan mesra di balik tirai sutra. Sekarang, hanya sisa penyesalan yang menyesakkan dada. Kilasan kenangan menari di pelupuk matanya. Pertemuan pertama mereka di taman bunga persik, senyum Mei Lan yang menawan, janji-janji yang diucapkan di bawah rembulan purnama. Ia berjanji akan melindunginya, menjaganya dari segala bahaya. Ia berjanji akan menjadikannya permaisuri, ratu hatinya. Namun, kekuasaan mengubahnya. Ambisi merayap masuk, membutakan hatinya. Ia menikah dengan putri dari kerajaan tetangga, aliansi politik yang menguntungkan. Mei Lan terpinggirkan, cintanya terabaikan. Setiap senyum yang diberikannya pada sang putri, adalah cambuk bagi hati Mei Lan. Setiap malam yang dihabiskannya di kamar sang putri, adalah luka yang menganga di jiwa Mei Lan. Sekarang, ia menyesal. Air mata mengalir di pipinya, panas dan pahit. Ia ingin menarik kembali waktu, memperbaiki kesalahannya. Ia ingin kembali menjadi Li Wei yang dulu, yang hanya memiliki mata untuk Mei Lan. Tapi, waktu adalah sungai yang tak bisa dilawan arusnya. "AKU SALAH!" teriaknya, tinjunya menghantam lantai marmer. Rasa bersalah menghancurkannya, mencabik-cabik hatinya yang beku. Tiba-tiba, angin sepoi-sepoi bertiup melalui jendela, membawa aroma bunga persik yang lembut. Di tengah dupa dan air mata, aroma itu seperti ciuman terakhir dari Mei Lan. Di belakangnya, bayangan panjang dari sosok yang berdiri tegak terlihat samar. Sosok itu adalah Ailin, dayang setia Mei Lan. Dia telah menjadi saksi bisu penderitaan sang selir, menyaksikan bagaimana sang kaisar menghancurkan hati wanita yang dicintainya. Ailin membungkuk hormat, wajahnya tanpa ekspresi. “Yang Mulia,” ucapnya dengan nada yang dingin seperti es, “ramuan yang Anda minum setiap hari, ramuan yang seharusnya menjaga kesehatan Anda, mengandung sedikit *Belladonna*." Li Wei tersentak. Belladonna? Racun mematikan? Matanya membulat, penuh ketakutan dan kebingungan. Ailin melanjutkan, suaranya bagai bisikan maut, "Mei Lan selalu tahu bahwa *Belladonna* bisa membunuh. Dia hanya tak punya keberanian menggunakannya untuk dirinya sendiri. Dia percaya, takdir akan menuntut keadilan, meskipun dengan cara yang paling halus..." Kaisar Li Wei terhuyung, tangannya mencengkeram dadanya. Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap Ailin, mencari jawaban di matanya. Tapi, yang ia temukan hanya kehampaan. Sebelum kegelapan menelannya sepenuhnya, ia berbisik, "Apakah... dia... mencintaiku?" Ailin menatapnya dengan dingin. "Apakah cintamu padanya cukup pantas untuk dimaafkan?"
You Might Also Like: Open Door Animal Sanctuary Reviews 168

Share on Facebook