**Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati** **BAGIAN SATU: Bayang-Bayang Bukit Teh** Kabut menggantung di atas perkebunan teh di kaki Gunung Wuyi, menyelimuti segalanya dalam kerudung basah dan rahasia. Di sanalah, di antara rerimbunan *Camellia sinensis* yang hijau abadi, aku dan Li Wei tumbuh bersama. Saudara seperguruan, rekan sepermainan, dua anak lelaki yang diikat oleh sumpah setia di bawah pohon *wutong* yang sakral. "Kau akan selalu melindungiku, bukan, Li Wei?" Tanyaku, bocah kecil dengan mata penuh mimpi. Li Wei, dengan senyum simpul yang kelak menjadi topeng abadi, menjawab, "Selamanya, Jian. Sampai akhir dunia." Dunia kami adalah kuil Shaolin yang terpencil, ajaran keras guru Wu, dan janji persaudaraan abadi. Tapi dunia, seperti teh yang diseduh terlalu lama, bisa menjadi pahit dan beracun. Waktu berlalu, mengubah kami menjadi pria dewasa dengan bahu kokoh dan pandangan mata yang tajam. Aku, Jian, menjadi yang terbaik dalam bela diri, pengawal setia Putra Mahkota. Li Wei, dengan kecerdasan dan siasatnya, menjadi penasihat utama, bayangan yang selalu mengawasi dari balik tirai. "Kau semakin kuat, Jian," kata Li Wei suatu malam, di bawah rembulan sabit yang pucat. "Tapi kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah pedang tanpa pegangan." Kalimatnya terasa seperti duri yang terselip di balik pujian. Aku tidak mengerti saat itu. Bodohnya aku. **BAGIAN DUA: Simfoni Pengkhianatan** Intrik istana adalah labirin gelap yang penuh dengan jebakan dan kebohongan. Aku, dengan kesetiaanku yang buta, melindungi Putra Mahkota dari setiap ancaman. Li Wei, selalu selangkah di depanku, selalu tahu bahaya yang akan datang. Dia adalah otak, aku adalah otot. Begitulah kami bekerja, seperti roda-roda jam tangan yang presisi. Lalu, tragedi itu terjadi. Putra Mahkota dibunuh. DIRACUN. Dunia runtuh. Aku bersumpah membalas dendam, menghancurkan siapa pun yang bertanggung jawab. Li Wei, dengan wajah sedih dan mata yang redup, membantuku menyelidiki. Dia menuntunku, memberikan petunjuk, seolah dia adalah kompas yang menunjukkan jalan keluar dari kegelapan. Namun, semakin aku mendekati kebenaran, semakin aku merasa ada yang salah. Ada sesuatu yang tidak sinkron, sebuah nada palsu dalam simfoni kesetiaan Li Wei. Suatu malam, aku menemukan surat tersembunyi di kamar Li Wei. Surat yang ditujukan kepada – *Ibu Suri*? Isinya membuatku membeku. Rencana pembunuhan Putra Mahkota. Ditulis dengan tangannya sendiri. **DIA.** "Kau..." Aku berdiri di hadapannya, di bawah cahaya lilin yang berkedip-kedip. Wajahnya tanpa ekspresi, topeng kesetiaan itu akhirnya lepas. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Jian," jawabnya, suaranya dingin seperti baja. "Kau terlalu naif. Terlalu percaya. Istana bukan tempat untuk orang sepertimu." "Mengapa?" tanyaku, suaraku bergetar. "Mengapa kau mengkhianatiku?" Senyum sinis menghiasi bibirnya. "Karena...aku mencintai ibumu." **IBUKU.** **BAGIAN TIGA: Balas Dendam yang Sunyi** Ternyata, Li Wei bukanlah saudara seperguruan, bukan sahabat. Dia adalah anak haram Kaisar, dikirim ke kuil Shaolin untuk dilenyapkan. Ibuku, seorang dayang yang malang, telah melindunginya, menyembunyikannya dari amarah Kaisar. CINTANYA pada ibuku membawanya pada ambisi. Ambisi yang menuntut harga: Putra Mahkota, kesetiaanku, dan HATIKU. Aku terlatih untuk membunuh. Aku terlatih untuk melindungi. Tapi aku tidak pernah terlatih untuk menghadapi pengkhianatan sedalam ini. BALAS DENDAM adalah satu-satunya pilihan. Pertarungan kami terjadi di bawah pohon *wutong* yang sama, tempat kami dulu bersumpah setia. Di bawah rembulan yang sama yang dulu menjadi saksi persahabatan kami. Gerakan kami cepat dan mematikan, setiap pukulan adalah teriakan kesakitan, setiap tangkisan adalah ratapan kehilangan. Kami adalah dua bayangan yang menari di tepi jurang. Pada akhirnya, aku berdiri di atasnya, pedangku menempel di lehernya. Mata Li Wei menatapku, tanpa penyesalan. "Bunuh aku, Jian," bisiknya. "Bebaskan aku." Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, tanpa ragu, aku mengayunkan pedangku. Saat dia jatuh, dia tersenyum. Senyum yang sama yang dulu membuatku percaya bahwa dia adalah saudaraku. Sebelum kegelapan menelannya, dia berbisik, "Aku akan selalu mencintaimu...walaupun kau tak akan pernah tahu... *apa yang sebenarnya ibumu lakukan*..."
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Tafsir Melihat Ikan

Share on Facebook