**Hujan di Atas Kenangan** Rintik hujan jatuh membabi buta di jendela kafe usang. Suara gemericiknya menggigilkan tulang, sama seperti tatapan Lin Wei pada sosok yang baru saja memasuki ruangan. Zhang Chen. Lima tahun berlalu, namun bayang-bayang masa lalu seolah baru kemarin menghantamnya. Zhang Chen, dengan jas abu-abu gelap yang basah kuyup, berdiri di ambang pintu. Matanya, dulu sehangat matahari musim semi, kini redup diterpa badai. Ia menghampiri meja Lin Wei dengan langkah ragu. "Wei…" bisiknya, suaranya serak. "Lama tidak bertemu." Lin Wei hanya menatapnya dingin, tanpa senyum sedikit pun. Di atas meja, tergeletak sebuah kotak musik kecil, hadiah terakhir dari Zhang Chen sebelum pengkhianatan itu terjadi. Kotak musik itu, dulunya simbol cinta mereka, kini terasa seperti belati yang menghujam jantungnya berulang kali. "Hadiah kecilmu," kata Lin Wei, suaranya datar, "maknanya terlalu besar untuk aku lupakan." Suasana di antara mereka mengental. Hujan semakin deras, mencerminkan badai di dalam hati Lin Wei. Bayangan mereka di dinding kafe tampak patah, terpecah belah oleh ingatan pahit. Zhang Chen duduk di hadapan Lin Wei. Cahaya lentera di atas meja berkedip-kedip, nyaris padam, seolah tak mampu menahan beban emosi yang memancar dari kedua insan itu. "Aku… aku minta maaf," lirih Zhang Chen. "Aku tahu, kata maaf tidak akan cukup untuk menghapus luka yang ku torehkan." Lin Wei tersenyum sinis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Luka? Zhang Chen, kau mengambil *SELURUHNYA* dariku." Zhang Chen menunduk. Lima tahun lalu, ia tergoda oleh kekayaan dan ambisi. Ia menikahi putri seorang konglomerat, meninggalkan Lin Wei dengan hati yang hancur berkeping-keping. "Aku tahu kau membenciku," lanjut Zhang Chen. "Aku pantas menerimanya." "Benci?" Lin Wei mengangkat dagunya, menatap Zhang Chen dengan intensitas yang membuat pria itu bergidik. "Benci terlalu lemah untuk menggambarkan apa yang aku rasakan." Hujan semakin mengamuk. Lin Wei membuka kotak musik itu. Melodi sendu memenuhi ruangan. Lagu yang dulunya mereka sukai, kini terdengar seperti ratapan pilu. "Kau tahu, Zhang Chen," bisik Lin Wei, "selama lima tahun ini, aku belajar satu hal… *KESABARAN*." Zhang Chen menatapnya bingung. Lin Wei berdiri. Bayangan di dinding tampak memanjang, mengancam. "Dan sekarang… waktunya menuai apa yang telah kau tanam." Lin Wei berbalik, meninggalkan Zhang Chen yang tertegun di kafe yang diguyur hujan. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, ia berbisik, "Semua kebangkrutanmu… semua kesengsaraanmu… semuanya adalah bagian dari *RENCANAKU*." Dan kemudian, hanya ada satu kalimat yang menggantung di udara, sebuah misteri yang lebih gelap dari malam: **"Apakah kau tahu, bahwa anak yang dikandung wanita itu bukanlah anakmu?"**
You Might Also Like: Simplify Complex Decimals Convert 0165

Share on Facebook