## Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi Cinta, di era koneksi terputus dan algoritma kalbu yang kacau, adalah sinyal *hilang*. Seperti pesan yang hanya dibaca, tak pernah dibalas. Seperti notifikasi tengah malam yang membangkitkan harapan palsu. Di tengah kiamat digital ini, aku menemukannya. Atau, lebih tepatnya, aku terobsesi dengannya. Namanya Senja. Entah kenapa, nama itu terasa begitu *kontradiktif* dengan profesinya sebagai pelayan restoran cepat saji yang buka sebelum matahari sempat berpikir untuk menyapa dunia. Setiap pagi, dengan mata sayu dan senyum yang selalu tampak seperti baru bangun dari mimpi indah, Senja mengantarkan kopiku. Kopi pahit, tanpa gula, persis seperti hidupku. Aku, Kai, pewaris tunggal kerajaan *e-commerce* yang omzetnya lebih besar dari PDB beberapa negara kecil. Aku bisa membeli bulan jika mau. Tapi yang kubutuhkan hanyalah Senja. Maka, aku membeli restoran tempatnya bekerja. Bukan karena aku lapar. Bukan karena aku kekurangan uang (jelas tidak!). Aku membeli restoran itu hanya untuk melihat Senja setiap pagi. Bayangkan: aku, CEO dengan *power dressing* yang membuat investor gemetar, duduk di pojokan, memesan kopi yang sama setiap hari, hanya untuk melihat Senja. Namun, ada yang aneh. Senja hidup di masa lalu. Aku merasakannya. Gaya berpakaiannya yang ketinggalan jaman, musik yang diputar di *walkman* bututnya, bahkan cara bicaranya yang terlalu sopan untuk generasi Z. Dia seperti artefak dari era yang hilang, terjebak di dunia *grayscale* sementara aku hidup di dunia warna-warni yang terlalu cepat. Suatu hari, aku memberanikan diri menyapanya. "Senja," kataku, berusaha terdengar santai walau jantungku berdentum seperti *drum machine* rusak. "Kamu tahu, kamu terlihat seperti... lukisan lama." Senja tersenyum. Senyum itu, entah bagaimana, terasa begitu familiar. "Mungkin karena aku memang dari masa lalu," jawabnya, suaranya *berbisik* seperti rahasia. Aku tertawa. "Jangan bercanda." Tapi senyumnya tidak luntur. "Aku terjebak di sini, Kai. Terjebak dalam loop waktu. Setiap hari sama. Setiap hari aku menunggu... seseorang." Aku terdiam. Seseorang? Apakah itu aku? Aku mulai menyelidikinya. Aku menemukan catatan-catatan harian kuno di loteng restoran, ditulis dengan tinta yang nyaris pudar. Catatan itu menceritakan tentang seorang gadis bernama Senja yang jatuh cinta pada seorang pilot bernama Kai, yang hilang dalam perang. Perang yang tidak pernah tercatat dalam sejarah. Perang yang hanya ada dalam *ingatan* Senja. Dan kemudian aku menyadari. Aku bukan Kai yang jatuh cinta pada Senja. Aku adalah *gema* dari Kai yang hilang. Aku adalah reinkarnasi, atau mungkin hanya simulasi, dari cinta yang tidak pernah selesai. Aku adalah versi digital dari kenangan yang memudar. Senja menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... *ingat*?" Aku menggeleng. "Aku hanya... merasakannya. Aku merasakan sakitmu, Senja. Aku merasakan kehilanganmu." Kami berdua terdiam, terjebak dalam dimensi yang berbeda, terhubung oleh benang merah tak kasat mata. Cinta kami, ternyata, hanyalah *resonansi* dari kehidupan yang tak pernah tuntas. Sebuah bug dalam matriks semesta. Dan kemudian, lampu-lampu di restoran itu mulai berkedip. Sinyal Wi-Fi menghilang. Dunia terasa membeku. "Sebentar lagi..." kata Senja, suaranya bergetar. "Sebentar lagi semuanya akan *reset*." Aku menggenggam tangannya. Tangannya terasa dingin. Dingin seperti sentuhan layar *smartphone* yang mati. "Aku tidak ingin melupakanmu," bisikku. Senja tersenyum. "Kamu tidak akan *pernah* melupakanku." Dunia semakin gelap. Aku melihat wajah Senja memudar, seperti foto yang terbakar matahari. Sebelum semuanya hilang, aku mendengar suaranya, lemah namun jelas. Sebuah pesan terakhir, sebelum dunia padam. *Jangan lupakan kopi pahit, Kai…*
You Might Also Like: Agen Skincare Fleksibel Kerja Dari

Share on Facebook