Baiklah, ini dia dracin pendek berjudul 'Pelukan yang Mengantar Kepergian': **Pelukan yang Mengantar Kepergian** Di sebuah desa terpencil yang terbungkus kabut abadi, tinggallah Mei Lan. Usianya baru menginjak 17 tahun, namun matanya menyimpan kedalaman lautan yang menyimpan ribuan cerita. Ia seorang perajin lilin, menghasilkan lilin-lilin dengan aroma yang mampu menenangkan jiwa. Namun, hatinya tak pernah seutuhnya tenang. Ia kerap dihantui mimpi tentang taman bunga persik yang berlumuran darah dan suara tawa seorang pria yang menusuk jantungnya. Suatu senja, seorang musafir bernama Jian datang ke desanya. Jian seorang tabib keliling, dikenal karena ramuannya yang mampu menyembuhkan penyakit aneh. Saat Mei Lan menatap mata Jian, jantungnya berdebar kencang. Rasa familiar yang aneh menyelimutinya, seolah ia mengenal pria itu *seumur hidupnya*. Jian menetap di desa itu lebih lama dari yang ia rencanakan. Ia terpesona oleh Mei Lan, oleh ketenangannya yang menyimpan badai. Ia sering membantu Mei Lan di kedainya, menceritakan kisah-kisah dari negeri yang jauh. Setiap cerita yang Jian tuturkan, memicu kepingan memori di benak Mei Lan. Suatu malam, saat hujan mengguyur desa, Mei Lan bermimpi lebih jelas dari biasanya. Ia melihat dirinya di kehidupan sebelumnya, seorang putri kerajaan bernama Lian Hua. Ia mencintai seorang jenderal bernama ZHAO, dengan sepenuh hatinya. Namun, Zhao mengkhianatinya. Ia bersekongkol dengan musuh, membantai keluarganya dan merebut tahtanya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Lian Hua bersumpah akan membalas dendam di kehidupan selanjutnya. **KENANGAN ITU DATANG BAGAI TSUNAMI!** Mei Lan terbangun dengan keringat dingin. Ia tahu siapa Zhao di kehidupan ini: *Jian*. Ia menyadari mengapa ia merasa familiar dengannya, mengapa jantungnya berdebar setiap kali pria itu mendekat. Jian adalah Zhao, reinkarnasi dari pria yang menghancurkannya. Namun, Mei Lan tidak marah. Ia tidak berteriak, tidak menangis. Ia hanya tersenyum pahit. Ia tahu bahwa balas dendam sejati bukanlah dengan membunuh Jian. Balas dendam sejati adalah dengan *membiarkannya hidup*. Dengan tenang, Mei Lan menemui Jian keesokan harinya. Ia memeluknya erat, seolah memberinya pelukan perpisahan. Dalam pelukan itu, ia berbisik pelan, "Terima kasih atas kenangannya. Aku memaafkanmu, Zhao. Tapi, aku tidak bisa mencintaimu." Jian tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak akan pernah bisa ia gapai. Ia menatap mata Mei Lan, mata yang kini tak lagi menyimpan cinta, hanya kedamaian yang dingin. Jian meninggalkan desa itu keesokan harinya, membawa penyesalan yang akan menghantuinya selamanya. Mei Lan kembali membuat lilin. Lilin-lilinnya kini bersinar lebih terang, memancarkan harapan baru. Ia telah memaafkan masa lalunya, dan siap menyongsong masa depan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa takdir mereka belum selesai. Suatu hari, mereka akan bertemu lagi. ***"Di kehidupan selanjutnya, mungkin kita akan menjadi orang asing yang saling berpapasan di jalan, tanpa tahu bahwa jiwa kita pernah terikat oleh cinta dan pengkhianatan seribu tahun lalu..."***
You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Kosmetik

Share on Facebook